Category Archives: Uncategorized
Terdengar bisikan mesra.
Allah yang beri. – Alhamdullilah.
Pekan tulis. – Alhamdullilah
Watch “Pilih” on YouTube
Watch “Blue print.” on YouTube
Watch “Mantan Jurnalis BBC: Saya Belum Beryahadah Tapi Hati Saya Sudah Masuk Islam | Khalil Charles” on YouTube
Watch “Ahli neraka.” on YouTube
Jalan yang benar.
*بسْـــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم*
*Jalan Kebenaran Hanya Satu*
Hidup ini adalah sebuah perjalanan
Pernahkah kita memikirkan bahawa hidup ini hakekitnya adalah perjalanan?
Pernahkah kita merenungkan hidup di dunia ini tidak lain ada lah sebuah perjalanan menuju kepada Allah Ta`ala?
Tidakkah Anda mengingat sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam:
*كلّ الناسِ يغدو؛ فبائعٌ نَفسَه فمُعتِقها أو موبِقها*
Setiap hari semua orang melakukan perjalanan hidupnya, keluar mempertaruh kan dirinya! Ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang mencelakakannya!
*Hadits Riwayat Imam Muslim*
Oleh karena itu Allah dalam firman-Nya menjelaskan,
*يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ*
Pada hari dimana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
*إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ*
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat
*QS. Asy-Syu’araa: 88-89*
Dan Allah Ta’ala berfirman pula:
*فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا*
Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan jangan lah ia mempersekutu kan Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Tuhannya.
*QS. Al-Kahfi: 110*
Memang demikianlah hidup ini, yang diharap dan yang dituju adalah Allah Ta’ala, berjumpa dengan-Nya, menghadap kepada Nya dan melihat wajah-Nya serta untuk meraih ridha-Nya.
Jalan hidup yang benar hanya ada satu,
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
*خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,
Ini adalah jalan Allah, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,
Ini adalah jalan-jalan yang banyak.
Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu kemudian beliau membaca,
*وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ*
Dan bahawa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.
*QS. Al An’am: 153, Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya*
Para imam tafsir menjelaskan bahawa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan jalan yang di larang manusia mengikuti nya, yaitu *السُّبُلَ*
Dalam rangka menerangkan cabang- cabang dan banyak nya jalan-jalan kesesatan.
Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu *سَبِيلِهِ*
Karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang.
*Sittu Duror, hal.52*
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanyalah satu.
Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya.
Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada Nya, kecuali melalui jalan ini.
*Sittu Duror, hal.53*
Mengenal jalan kebenaran yang satu
Jika Anda ingin tahu apa itu jalan kebenaran yang hanya ada satu tersebut? Jawapannya adalah jalan yang pernah di tempuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, itulah satu satunya jalan yang boleh mengantar kan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menjelaskan bahayanya tidak mengetahui jalan kebenaran ini, beliau mengatakan,
*الجهل بالطريق و آفاتها و المقصود يوجب التعب الكثير، مع الفائدة القليلة*
Ketidaktahuan terhadap jalan kebenaran ini dan rintangan-rintangan nya, serta tidak memahami maksud dan tujuannya, akan menghasilkan kepayahan yang sangat, disamping itu faedah yang didapat kan pun sedikit
*Sittu Duror, hal. 54*
Karena begitu penting nya mengenal jalan kebenaran tersebut, maka mari kita mempelajari jalan kebenaran yang hanya ada satu itu, yang semua kaum muslimin mensepakatinya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan jalan yang lurus tersebut dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
*تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِيْ*
Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu.
Jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lama nya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku.
*Diriwayatkan Imam Malik dan yang lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani*
Ya, jalan kebenaran yang hanya satu itu adalah jalan Kitabul lah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya adalah jalan yang lurus.
Sebagaimana dijelas kan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,
*الصِّرَاطُ الْمُستَقـِيْمُ الَّذِي تَرَكَنَا عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ*
Jalan yang lurus, yaitu jalan yang di tinggal kan Rasulullah untuk kami Atsar shahih, dikeluar kan Ath Thabari dan yang lainnya.
Mana dalilnya, bahawa Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus?
Dalil Al-Qur’an adalah jalan yang lurus
Allah Ta’ala berfirman:
*قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ*
Mereka berkata:
Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab Al-Qur’an yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
*QS. Al-Ahqaaf: 30*
Dalil As-Sunnah ada lah jalan yang lurus, Allah Ta’ala berfirman:
*وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ*
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
*QS. Asy-Syuuraa: 52*
Dengan demikian Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus, inilah satu-satunya jalan kebenaran, keduanya hakikatnya adalah satu kesatuan, sama sama wahyu Allah Ta’ala.
Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah, Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena kita diwajibkan mena’ati Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ*
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul Nya, dan Ulil amri di antara kamu.
*QS. An-Nisaa: 59*
Menaati Allah adalah dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berpegang teguh kepada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Catatan:
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sumber hukum Islam
Al-Hadits adalah hujjah dalil, sebagai mana Al-Qur’an, karena keduanya adalah sama-sama wahyu dari Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
*ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه*
Ketahuilah sesungguh nya saya diberi wahyu Al-Qur’an dan wahyu yang semisalnya bersamaan dengan nya As-Sunnah
*HR. Abu Dawud dan Ahmad, sedangkan lafadz ini adalah lafadz riwayat beliau. Hadits ini dishahihkan Syaikh Al-Albani*
Hakikatnya berpegang teguh dengan sunnah adalah ketaatan kepada Allah dan mengamalkan Al-Qur’an, karena Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:
*مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ*
Barang siapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah.
*QS. An-Nisaa: 80*
Fungsi As-Sunnah
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hakikatnya sama dengan Kitab Allah, yaitu sama sama sebagai wahyu Allah.
Fungsi sunnah itu sebagai penjelas bagi Kitab Allah Azza wa Jalla.
Bahkan, makhluk terbaik yang menafsir kan Al-Qur’an adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
*وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ*
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerang kan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka
*QS. An Nahl: 44*
As-Sunnah menjelas kan apa yang ada di dalam Al-Qur’an yang masih global dengan merincinya, seperti masalah salat, puasa, zakat, haji, dan yang lainnya.
Jadi As-Sunnah yang shahih tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Qur’an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan makna Al-Qur’an dan beliau pun telah memberi contoh bagaimana mengamalkannya, sehingga semua ayat Al-Qur’an menjadi jelas makna dan praktek nya bagi umat ini .
Bahkan seorang muslim tidak harus menunggu mengetahui dalil dari Al-Qur’an dalam melakukan sebuah ibadah, jika ia sudah mengetahui satu saja dalil dari hadits yang shahih, selama hadits tersebut sudah cukup menunjukkan kepada suatu bentuk tata cara ibadah, maka boleh langsung mengamal kan hadits tersebut.
Kesimpulan, Jalan kebenaran hanya satu, yaitu jalan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Karena keduanya sama-sama dari Allah dan fungsi As-Sunnah menjelas kan Al-Qur’an dan merinci yang global darinya, maka hakikat kedua nya merupakan satu kesatuan, satu jalan kebenaran.
Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan yang lurus.
Kita wajib berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Al-Qur’an dan As-Sunnah sama sama sebagai sumber hukum Islam, karena keduanya sama-sama sebagai wahyu Allah.
Rasulullah shallallahu
a’laihi wa sallam bersabda:
*مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ*
Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memaham kan nya dengan agama.
*HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu.*
Kajian Al-Qur’an Hadits, Dakwah Yang Unik Dan Menarik, Serta Memudahkan Masyarakat Dalam Belajar Islam Yang Benar.
*بَارَكَ اللهُ فِيْكُم*
Ummi.
*MAKSUD GELARAN UMMI PADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW*
Apakah yang dimaksudkan dengan “Ummi” itu ? Sesetengah daripada kita beranggapan gelaran ummi pada Rasulullah SAW itu bermaksud orang yang tidak tahu menulis dan membaca. Benarkah gelaran ummi itu dimaksudkan dengan orang yang tidak tahu menulis dan membaca ?
Perkataan “tidak tahu” pada ayat tersebut sebenarnya telah merendahkan sifat kebijaksanan Rasulullah SAW. Sehingga orang kafir mempertikaikan kebijaksanaan Nabi Muhammad SAW, Rasul yang amat kita kasihi. Orang kafir berpendapat, bahawa orang yang bijaksana mestilah tahu menulis dan membaca kerana itu adalah cara atau kaedah untuk mencari ilmu pengetahuan.
Saya ingin menceritakan satu kisah berkenaan dengan seorang ustaz yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Ustaz ini mengambil PhD dan beliau telah membuat kajian tentang “UMMI” iaitu sifat yang ada pada Rasulullah SAW.
Sejak kecil hingga dewasa, ustaz ini hanya mengetahui maksud ummi pada Rasulullah itu sebagai orang yang tidak tahu menulis dan membaca.
Beliau telah berjumpa dengan ramai professor dan melawat banyak perpustakaan universiti di negara-negara Arab tetapi jawapan yang ditemui tetap juga sama. Beliau berasa sedih kerana sejak kecil beliau tidak berpuas hati dengan jawapan ini. Beliau sangat mencintai Rasulullah dan tidak sanggup mendengar penghinaan orang kafir terhadap junjungan besar Nabi kita.
Kunjungan terakhirnya ialah di Makkah Al- Munawwarah. Selepas bersolat dan berdoa di hadapan Ka’bah, beliau melihat seorang tua senyum kepadanya.
Ustaz ini datang kepada orang tua itu dan berbual-bual. Akhirnya soalan terakhir yang dikemukakan oleh ustaz ini kepada orang tua itu ialah ‘ apakah maksud ummi yang ada pada Rasulullah SAW itu sebenarnya?’.
Walaupun tidak yakin dengan jawapan yang akan diberikan oleh orang tua itu, tetapi ustaz ini bertanya juga. Orang tua itu tersenyum dan akhirnya menjawab….
“ Wahai anakku, UMMI itu sebenarnya berasal daripada perkataan bahasa Arab lama yang membawa 2 maksud.:
Maksud yang pertama ialah INDUK dan maksud yang kedua ialah ORANG YANG TIDAK TAHU MENULIS DAN MEMBACA.
Perkataan INDUK itu pula mendukung dua maksud juga iaitu yang pertama IBU dan maksud yang kedua ialah TEMPAT LETAKNYA SEGALA SESUATU.
Sebenarnya ummi pada Nabi Muhammad SAW itu membawa maksud pengertian induk yang kedua iaitu *”tempat letaknya segala sesuatu”* dan bukannya orang yang tidak tahu menulis dan membaca.
Wahai anakku, anda pun tahu segala ilmu pengetahuan yang berada di dunia ini terdapat di dalam kitab Al-Quran dan Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia. Ini bermaksud Rasulullah adalah tempat berkumpulnya segala ilmu pengetahuan. *Perlukah orang yang telah mempunyai segala ilmu pengetahuan belajar menulis dan membaca*, sedangkan menulis dan membaca hanyalah satu kaedah untuk mencari ilmu pengetahuan.
*Rasulullah tidak perlu kepada menulis dan membaca kerana Allah SWT sendiri melalui malaikat Jibril telah mengajar Rasulullah SAW AI-Quran, kitab yang mengandungi segala ilmu ilmu dunia dan akhirat*. Hanya orang biasa seperti kita yang patut tahu bagaimana hendak menulis dan membaca kerana hanya dengan cara itu kita dapat mencari ilmu. Jadi maksud ummi pada Rasulullah SAW yang anak cari selama ini bukanlah orang yang tidak tahu menulis dan membaca tetapi terdapat dalam maksud induk yang kedua iaitu *”TEMPAT LETAKNYA SEGALA ILMU PENGETAHUAN”*. Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul Yang bersifat Bijaksana. ”
Selepas mendengar jawapan daripada orang tua itu, ustaz itu memeluk orang tua itu dan menangis sedih kerana kejahilannya selama ini yang beranggapan bahawa ummi pada Rasulullah itu bermaksud orang yang tidak tahu menulis dan membaca, sedangkan maksud ummi yang sebenar yang ada pada diri Rasulullah itu adalah lebih tinggi maksudnya. Dia merasa sangat gembira kerana apa yang dicarinya selama ini telah ditemui.
Melihatlah dengan pandangan mata hati…
Moga bermanfaat Dan dapat mengubah kefahaman kita masing-masing.
In sya Allah…🍀


